
Mata Minus Pada Anak Meski Jarang Main Gadget, Kok Bisa?
Mata Minus Padahal Banyak Orang Tua Merasa Sudah Membatasi Pemakaian Gadget Pada Anak Dengan Cukup Disiplin. Waktu menonton layar di batasi, aktivitas digital di kurangi — namun ketika diperiksa, mata anak ternyata mengalami minus (rabun jauh). Situasi seperti ini sering membuat orang tua bertanya-tanya: Apakah minus hanya di sebabkan oleh gadget? atau ada faktor lain yang perlu diperhatikan?
Menurut dokter spesialis mata anak dr. Kianti Raisa Darusman, Sp.M(K), Mata Minus pada anak tidak hanya di sebabkan oleh penggunaan gadget seperti ponsel atau tablet. Ada beberapa faktor yang berperan, dan beberapa di antaranya bahkan tidak ada hubungannya dengan layar sama sekali.
Salah satu faktor kuat adalah genetik atau keturunan. Artinya, jika salah satu atau kedua orang tua memiliki rabun jauh. Anak juga memiliki peluang lebih tinggi mengalami kondisi yang sama meskipun ia jarang terpapar gadget.
Selain itu, kebiasaan visual harian anak juga berperan besar. Salah satunya adalah kekurangan waktu bermain di luar ruangan, yang di tengarai dapat meningkatkan risiko Mata Minus berkembang. Cahaya alami dari luar ruangan dan fokus pandangan jarak jauh di percaya membantu pertumbuhan mata yang sehat dan bisa mengurangi kemungkinan mata memanjang secara abnormal. Mekanisme yang di kenal dalam perkembangan rabun jauh.
Bagaimana Mata Minus Terjadi Secara Medis
Secara medis, mata minus atau miopia terjadi ketika cahaya yang masuk ke mata tidak fokus tepat pada retina, melainkan lebih di depan retina. Akibatnya, benda jauh terlihat buram sementara objek dekat tetap jelas. Kondisi ini sering muncul dan berkembang pada masa anak karena bentuk mata yang masih dalam fase pertumbuhan.
Faktor-faktor penyebabnya umumnya berupa kombinasi:
- Genetik (keturunan): Anak dengan orang tua berkacamata minus sering memiliki risiko lebih tinggi mengalami rabun jauh.
- Paparan dekat terus-menerus: Aktivitas yang menuntut fokus dekat (seperti membaca lama atau pekerjaan dekat) dapat memengaruhi perkembangan mata jika tidak diimbangi dengan pandangan jauh.
- Kurangnya waktu di luar ruangan: Anak yang jarang bermain di luar, terutama di cahaya alami yang cukup, cenderung memiliki risiko miopia lebih tinggi. Ini karena paparan cahaya alami dapat memicu pelepasan dopamin di retina yang membantu mengatur pertumbuhan mata.
Faktor Gadget: Pemicunya Bukan Mutlak
Banyak studi memang menunjukkan hubungan antara waktu layar yang berlebihan dan meningkatnya risiko miopia. Paparan layar yang terus-menerus membuat mata fokus dekat untuk jangka panjang, memicu ketegangan dan, dalam beberapa kasus, mengubah bentuk mata sehingga minus menjadi lebih cepat berkembang.
Namun, penelitian juga menegaskan bahwa screen time bukan satu-satunya penyebab dan tidak setiap anak yang jarang menatap gadget terbebas dari risiko mata minus. Faktor lingkungan, kebiasaan visual, dan genetika tetap cukup menentukan kondisi mata si kecil.
Tanda-Tanda Anak Minus yang Perlu Di waspadai
Beberapa tanda yang bisa di perhatikan oleh orang tua meliputi:
- Anak sering mengernyitkan mata atau berkedip sering saat melihat jauh.
- Kesulitan melihat papan tulis di sekolah.
- Duduk dekat ketika menonton TV atau membaca.
- Mengeluh sakit kepala setelah membaca atau belajar.
Kalau tanda-tanda ini muncul, pemeriksaan mata oleh dokter spesialis mata adalah langkah pertama yang penting.
Apa yang Bisa Di lakukan Orang Tua?
Menyadari bahwa lebih dari satu faktor memengaruhi mata minus membantu orang tua bersikap lebih komprehensif dalam pencegahan. Berikut beberapa strategi yang bisa di terapkan:
- Dorong aktivitas luar ruangan: Setidaknya 1–2 jam bermain di luar setiap hari dapat membantu mengurangi risiko miopia.
- Istirahatkan mata saat melakukan tugas dekat: Terapkan aturan seperti 20-20-20 — setiap 20 menit melihat dekat, alihkan pandangan ke objek jauh sejauh 20 kaki (±6 meter) selama 20 detik.
- Monitor kebiasaan membaca dan pencahayaan: Pastikan anak membaca dalam pencahayaan baik dan tidak terlalu dekat dengan buku atau gadget.