Kenyamanan Jadi Alasan Utama Konsumen Memilih Baju Lebaran

Kenyamanan Menjelang Hari Raya Idulfitri, Pusat Perbelanjaan Hingga Toko Daring Mulai Dipadati Masyarakat Yang Berburu Baju Lebaran

Kenyamanan Menjelang Hari Raya Idulfitri, pusat perbelanjaan hingga toko daring mulai dipadati masyarakat yang berburu baju lebaran. Tradisi membeli pakaian baru masih menjadi kebiasaan tahunan yang melekat kuat. Namun di tengah tren fashion yang terus berubah. kenyamanan kini menjadi faktor utama yang menentukan pilihan konsumen dalam membeli baju lebaran.

Sejumlah pedagang mengungkapkan bahwa konsumen saat ini semakin selektif. Tidak sedikit pembeli yang lebih mengutamakan bahan yang ringan dan tidak panas, di banding sekadar model atau warna yang sedang viral.

“Sekarang pembeli banyak tanya bahan dulu. Mereka cari yang adem, jatuhnya bagus, tapi yang paling penting nyaman di pakai seharian,” ujar salah satu pedagang busana muslim di kawasan Tanah Abang, Jakarta, saat di temui pada akhir pekan.

Menurutnya, bahan seperti katun, linen, rayon, dan voal masih menjadi pilihan dominan. Hal ini sejalan dengan kebiasaan masyarakat yang umumnya melakukan banyak kegiatan selama lebaran. Mulai dari salat Id, berkumpul bersama keluarga, silaturahmi ke rumah kerabat, hingga bepergian ke luar kota.

“Lebaran itu kan aktivitasnya panjang. Kalau bajunya gerah, kaku, atau bikin gatal, orang jadi tidak nyaman,” tambahnya.

Model Longgar Paling Di Cari

Tidak hanya bahan, model pakaian juga turut menjadi perhatian pembeli. Banyak konsumen, terutama perempuan, memilih busana dengan Model Longgar Paling Di Cari seperti gamis, tunik, kaftan, maupun setelan muslim modern. Model tersebut di anggap fleksibel dan nyaman karena tidak membatasi gerakan.

Sementara bagi laki-laki, koko modern dengan bahan lebih tipis dan tidak mudah kusut juga semakin di minati. Bahkan untuk anak-anak, para orang tua kini lebih memilih baju lebaran yang longgar. Karena sederhana, tetapi tetap rapi agar anak bisa bergerak bebas.

Tren ini menunjukkan adanya pergeseran kebiasaan masyarakat. Jika sebelumnya baju lebaran identik dengan keinginan tampil mencolok atau serba mewah, kini banyak orang mulai memprioritaskan pakaian yang nyaman tetapi tetap pantas di gunakan di momen hari raya.

Belanja Online Dorong Konsumen Lebih Teliti

Kemajuan belanja online juga berpengaruh pada perubahan perilaku konsumen. Pembeli kini lebih teliti, mulai dari melihat detail bahan, ukuran, review pelanggan, hingga kualitas jahitan sebelum membeli.

Beberapa platform e-commerce pun mencatat bahwa kategori pakaian muslim menjelang lebaran biasanya mengalami peningkatan pesanan yang cukup signifikan, khususnya produk yang menonjolkan kenyamanan, bahan adem, dan desain simpel.

“Banyak yang cari yang bisa di pakai bukan cuma pas lebaran, tapi setelahnya juga. Jadi mereka beli yang nyaman dan modelnya tidak cepat ketinggalan zaman,” kata seorang pembeli di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Timur.

Kenyamanan Jadi Prioritas Baru

Pengamat fashion menilai tren ini sebagai tanda bahwa konsumen semakin sadar akan kebutuhan praktis. Pakaian lebaran saat ini tidak lagi sekadar simbol “baru”, melainkan juga di anggap sebagai bagian dari gaya hidup yang lebih fungsional.

Kenyamanan Jadi Prioritas Baru karena berdampak pada kepercayaan diri pemakainya. Baju yang nyaman membuat seseorang lebih leluasa bergerak, lebih santai bersosialisasi, dan lebih menikmati suasana hari raya tanpa terganggu rasa panas atau sesak.

Dengan tren yang terus berkembang, para pedagang memprediksi permintaan terhadap baju lebaran berbahan nyaman akan terus meningkat setiap tahunnya.

Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kenyamanan, pelaku usaha fesyen pun mulai menyesuaikan produksi mereka. Koleksi lebaran kini lebih banyak menonjolkan bahan breathable, desain minimalis, serta ukuran yang fleksibel. Dengan begitu, konsumen dapat tetap tampil menarik tanpa harus mengorbankan kenyamanan selama merayakan Idulfitri.